Jangan Bawa-bawa Nama Warga Lae Saga! Puluhan Warga Keberatan Pencatutan Nama Terkait Sengketa Lahan

- Penulis

Kamis, 1 Oktober 2026 - 03:11 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Kompas 1,asia
SUBULUSSALAM, 1 Oktober 2026 — Puluhan warga Desa Lae Saga, Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam, menyatakan keberatan keras atas tindakan segelintir oknum yang terus-menerus mengatasnamakan seluruh warga Desa Lae Saga dalam sengketa lahan yang sedang terjadi.

Tokoh masyarakat Desa Lae Saga, Sutrisno, yang telah menetap di wilayah itu sejak 1981, mengungkapkan hal itu secara tegas di hadapan warga yang berkumpul. Menurutnya, lebih dari 80 persen warga Lae Saga sama sekali tidak mengetahui persoalan lahan yang disengketakan tersebut.

“Silahkan kalian bersengketa, tapi jangan bawa-bawa nama Desa Lae Saga. Buat nama kelompok kalian sendiri. Warga Lae Saga tidak pernah bersengketa dengan pemilik lahan itu,” tegas Sutrisno.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia kemudian mengungkapkan fakta sejarah terkait lahan tersebut. Pada tahun 2012, warga Dusun Gunung Merapi diminta membuka lahan secara berkelompok. Bagi yang tidak ikut, dikenakan upah. Setelah pengerjaan selesai, Sudarsono — yang saat itu menjabat Kepala Dusun — membagikan uang sebesar Rp1.250.000 per Kepala Keluarga di kediamannya, dan seluruh warga Merapi menerimanya.

“Salahnya warga saat itu tidak bertanya, uang dari mana. Maklum, dulu warga masih awam. Rp1.250.000 pada masa itu sudah sangat besar. Yang kami tahu, lahan itu sudah punya pemilik, yang menanam dan merawatnya,” ujar Sutrisno.

Kini, lahan yang dibuka bersama itu ternyata sudah dijual, bahkan ada warga yang di bayar dua kali. Sutrisno meminta Sudarsono dan pihak yang bersengketa jujur dan tidak memutarbalikkan fakta.

“Sudarsono jangan berbohong. Pembagian uang itu terjadi di rumahnya sendiri. Jangan membebani orang tua kita yang sudah meninggal, karena mereka juga ikut menerima bagian itu. Kalau dipersoalkan, itu berdosa,” tambahnya.

Sutrisno menegaskan, sengketa ini urusan pribadi sekelompok orang, bukan urusan seluruh warga Lae Saga. Ia meminta pihak yang bersengketa berhenti menggunakan nama warga maupun nama kelompok transmigrasi untuk kepentingan masing-masing.

Kompas 1,asia

Follow WhatsApp Channel kompas1.asia untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“BERHENTI MENCATUT NAMA DESA KAMI!” DAN WARGA,Puluhan Warga Desa Lae Saga Keberatan Segelintir Oknum Mengatasnamakan Seluruh Warga Dan Desa dalam SengketaLahan
BPD Lama Digantikan BPD Baru, Desa Pameuntasan Perkuat Kolaborasi
​Menyongsong Era Baru Kepolisian:
Usai Sidang PT BDS, JHB Minta Identitas Perampasan HP wartawan Diungkap
Dinkes Gelar Evaluasi Manajemen Pelayanan RSUD
Pancasila Teguh, Indonesia Tangguh: Bupati dan Wabup Aceh Singkil Ajak Rawat Persatuan
Kapolres Pekalongan Pimpin Upacara dan Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila
MAKNA SIMBOLIK GARUDA PANCASILA, LAMBANG NEGARA KEBANGGAAN BANGSA INDONESIA
Berita ini 45 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 04:18 WIB

“BERHENTI MENCATUT NAMA DESA KAMI!” DAN WARGA,Puluhan Warga Desa Lae Saga Keberatan Segelintir Oknum Mengatasnamakan Seluruh Warga Dan Desa dalam SengketaLahan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 04:16 WIB

BPD Lama Digantikan BPD Baru, Desa Pameuntasan Perkuat Kolaborasi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 04:12 WIB

​Menyongsong Era Baru Kepolisian:

Kamis, 1 Oktober 2026 - 03:11 WIB

Jangan Bawa-bawa Nama Warga Lae Saga! Puluhan Warga Keberatan Pencatutan Nama Terkait Sengketa Lahan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Usai Sidang PT BDS, JHB Minta Identitas Perampasan HP wartawan Diungkap

Berita Terbaru

Berita

​Menyongsong Era Baru Kepolisian:

Kamis, 1 Okt 2026 - 04:12 WIB