Kompas, 1, asia
SUBULUSSALAM, 1 Oktober 2026 — Puluhan warga Desa Lae Saga, Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam, menyatakan keberatan tegas atas tindakan segelintir oknum yang terus-menerus mencatut nama warga dan nama desa tersebut dalam sengketa lahan yang sedang berlangsung. Menurut para warga, masalah itu hanya menyangkut pihak-pihak tertentu, dan mayoritas warga sama sekali tidak mengetahui maupun terlibat di dalamnya.
Salah satu tokoh masyarakat Desa Lae Saga, Sutrisno, yang memahami sejarah terkait lahan tersebut, menyampaikan penjelasan kronologis kepada media.
“Pada tahun 2012, warga Dusun Merapi disuruh membuka lahan secara berkelompok. Bagi yang tidak ikut membuka dikenakan biaya upah. Setelah itu, Sudarsono membagikan uang sebesar Rp1.250.000 per Kepala Keluarga. Semua warga Merapi menerimanya,” ungkap Sutrisno.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia melanjutkan, saat itu warga tidak bertanya asal-usul uang tersebut karena keterbatasan pemahaman. “Maklumlah, pada masa itu warga masih awam. Angka Rp1.250.000 sudah terasa sangat besar. Yang kami tahu, lahan yang dibuka itu sudah milik orang lain, yang sudah menanam dan merawatnya,” tambahnya.
Sutrisno menegaskan, lebih dari 80 persen warga Desa Lae Saga sama sekali tidak mengetahui sengketa lahan yang terjadi. Ia meminta pihak-pihak yang bersengketa untuk tidak lagi mengatasnamakan warga maupun nama desa.
“Kalian boleh bersengketa, tapi jangan bawa-bawa nama Desa Lae Saga maupun warga transmigrasi. Buat saja nama kelompok kalian sendiri. Warga Lae Saga tidak pernah bersengketa dengan pemilik lahan tersebut,” tegasnya.
Ia juga meluruskan fakta pembagian uang pada masa itu. “Pembagian uang Rp1.250.000 per KK dilakukan di rumah Sudarsono, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dusun. Semua warga Merapi menerimanya. Jangan berbohong, Sudarsono. Orang-orang tua kita yang sudah tiada pun ikut menerima bagian itu, jika dipermasalahkan nanti berdosa,” ucap Sutrisno dengan nada tinggi.
Warga yang berkumpul juga menyampaikan rasa malu atas peristiwa ini. “Kami yang tinggal di Lae Saga merasa malu. Hanya segelintir oknum yang membawa nama desa, padahal mayoritas tidak tahu apa-apa. Lahan itu sudah jelas milik orang yang merawatnya. Berhentilah mencatut nama warga Lae Saga terus-menerus,” pungkas Sutrisno yang telah menetap di Lae Saga sejak tahun 1981.
Para warga berharap pihak yang bersengketa menyelesaikan masalah secara pribadi tanpa melibatkan nama baik warga maupun nama Desa Lae Saga.
Kompas 1,asia
















Komentar